Kamis, 02 Februari 2012

QR (Quick Response) : Kode lanjutan untuk selalu membaca dengan lengkap




Harian Kompas (3/9) dalam tajuk Nama dan peristiwa menampilkan Mila Kunis (28) artis yang menjadi peran utama dalam film Friends with benefits. Tidak menyangka mendapatkan peran utama secepat itu, kunis hanya bisa mengupayakan untuk berperan sebaik-baiknya dan belajar dari seniornya.

Informasi yang simpel itu justru membuatku penasaran. Semudah itukah menjadi artis? Adakah pengalaman lain yang mendukung ? berapa film yang sudah dibintangi?, pertanyaan yang melingkar-lingkar di kepala biasanya berujung dengan pencarian melalui search engine untuk melengkapi informasi menjadi sesuatu yang utuh didapatkan oleh pencari informasi. Jeli terhadap masalah ini, beberapa media diantaranya Harian Kompas melalui litbangnya membantu dengan memberikan informasi tambahan yang memungkinkan pencari informasi mengetahui lebih jauh berita yang diinginkan. Kode berbentuk kotak dan berbintik-bintik dengan kode tertentu ( DK 0009 5764) merupakan kode yang membantu pencari informasi menelusur lebih jauh data-data pendukung informasi tersebut.
QR (Quick Response) adalah kode yang berisi data alphanumerik yang dapat dibaca melalui kamera atau pembaca kode lain dan bahkan handphone yang kesemuanya dapat terhubung langsung dengan fasilitas internet. QR yang pertama kali dikembangkan oleh perusahaan manufaktur Jepang “Denso Wave” sekitar tahun 1994 dan sangat terkenal di Jepang sebagai kode-kode barang. Kode ini merupakan kode 2 dimensi yang membedakannya dengan barcode biasa yang merupakan kode 1 dimensi dan mempunyai keterbatasan tidak bisa menampilkan sekaligus huruf dan simbol, serta tidak dapat memuat data yang banyak, dengan barcode QR ini semua keterbatasan itu diminimalkan.
Contoh sepenggal informasi Mila Kunis diatas dilengkapi dengan informasi tambahan melalui kode QR  akan menjadi lebih lengkap. Informasi tambahan melalui QR memuat data lengkap pribadi dan sebagian filmografi yang pernah dilakukan membantu pencari informasi bahwa debut artis tersebut ternyata sudah dimulai dari tahun 1998 sebagai Jackie. Pengalaman lain juga disebutkan berperan dalam serial TV yang panjang. Kode QR ini membantu menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan diatas bahwa tidak mudah untuk mencapai puncak ketenaran tanpa melalui perjuangan-perjuangan sebelumnya

Kamis, 06 Mei 2010

local community in Yogyakarta, case : pasar ngasem

Pasar ngasem terletak di sisi utara cagar budaya tamansari. Masyarakat jogja mengenal pasar ngasem sebagai pasar hewan, karena segala macam binatang peliharaan di jual di pasar ini. Ngasem adalah daerah strategis untuk pariwisata yogya karena hanya terletak 400 meter jauhnya dari Kraton Yogyakarta. Konon menurut cerita, strata sosial bangsawan di Yogyakarta, seseorang akan dianggap "berada" (kata lain dari strata sosial tinggi) jika mempunyai kuda sebagai alat transportasi, keris sebagai senjata dan burung sebagai hewan peliharaan. Hingga sekarang burung menjadi primadona jualan di pasar ngasem selain hewan peliharaan lain.

Kamis 22 April 2010, Pasar Ngasem di relokasi ke daerah Bantul Km.1 dengan kirab andong sebagai bukti bedhol desa. Pertanyaan yang ada di pikiran saya, kok nggak demo? loh emang kalau di relokasi harus demo?, maka saya mulai menelisik dari berbagai hal yang saya amati.

Nampaknya sudah terjadi kesepakatan bahwa relokasi dilakukan karena memang tempat yang sudah dirasakan terlalu sempit dan akan diberi tempat yang lebih longgar dan kawasan yang sehat. Pemkot berjanji untuk menarik pengunjung pergi ke pasar satwa dengan hiburan yang menarik. Menurut kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta Ahmad Fadli, di pasar itu pemerintah sudah bekerja sama dengan dinas lingkungan hidup untuk mendaur ulang kotoran hewan.

Hal ini menunjukkan terjadinya sinergi yang bagus antar dinas yang terkait dengan pedagang pasar. yang terlihat sangat jelas bagi saya orang yogya adalah, pedagang pasar yang "di wongke" dengan kirab budaya yang menjadikan mereka merasa tidak diusir. Pendekatan ini adalah pendekatan jawa, "di pangku mati", bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi efek positif dirasakan oleh pihak yang tersingkir tetapi tetap merasa di hormati.

Saya yakin ini tidak saja menjadi contoh bagi daerah lain, tetapi sebagai pribadipun saya merasakan atmosfir yang membawa saya pada pemahaman untuk selalu menghormati orang lain

Jumat, 12 Februari 2010

Jelang IMLEK 2010

Rumahku berada diseputaran beskalan, daerah di tengah kota yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat tionghoa. Berprofesi sebagai pedagang mereka berkehidupan dengan kebudayaan yang berbeda dengan warga sekitarnya. Pemandangan seperti itu kulalui dari mulai kecil hingga sekarang dimana saya tidak lagi bermukim di daerah itu.
Pagi ini daerah yang jaraknya 9 kilometer dari rumahku itu kukunjungi, secara kebetulan karena harus mengantar anakku sekolah di daerah terban yang kira-kira jaraknya setengah kilometer arah timur tugu yogya. Motor kupacu menuju arah tugu, menyusuri jalan malioboro yang masih lengang karena toko belum buka. Kubelokkan motorku ke kanan menuju gandekan untuk sampai Patuk, kampunku yang bersebelahan dengan gandekan dan beskalan yang merupakan perkampungan warga tionghoa. Aku mampir ke rumah orang tuaku yang masih tinggal di daerah patuk , setengah jengkal berjalan dari arah malioboro. Masih pagi tapi suasana ramai, aku baru ingat kalau hari minggu tanggal 14 Februari 2010 adalah imlek atawa tahun baru china, dimana setiap orang melakukan sembahyang dan ritual untuk mengenang leluhurnya di tahun yang baru. Karena hari minggu menurut adat , mereka tidak diperkenankan untuk bekerja dan memasak maka dua hari sebelum perayaan imlek adalah hari-hari untuk belanja segala keperluan imlek. Istilah yang biasa digunakan adalah “prepegan” hari dimana orang berjubel-jubel di pasar untuk membeli keperluan hari raya.
Lumayan nih suasananya pikirku, kususuri jalan-jalan di pasar senen (pasar tradisional berjarak sekitar 100 meter dari pasar patuk yang terkenal dengan makanan khas tionghoa) untuk melihat “prepegan” imlek. Tjik Jin yang jualan daging babi memang kebanjiran pesanan. Hampir semua memesan “Sancam” yaitu daging babi yang masih ada lemak-lemaknya untuk dijadikan “uborampe” sesaji. Di tempat lain, yu Jum menaikkan harga tahunya yang semula 1500 menjadi 2000, setahun sekali katanya. Tidak ada yang protes atas kenaikan harga-harga yang terjadi, tidak ada perang urat syaraf tarik menarik harga, fenomena ini tidak seperti yang terjadi di hari-hari biasa. Pada saat-saat seperti ini pembeli akan merasa maklum kalau penjual menaikkan harga jualannya, sementara pedagang juga tidak menaikkan harga terlalu tingi, menurut mereka sama-sama dapat rejeki dan memberi rejeki kepada orang lain secara ikhlas. Menurut tradisi tionghoa yang dituturkan tetanggaku dari budaya turun temurun, dalam sembahyangnya di sajikan minimal 12 macam masakan dan 12 kue yang mewakili lambang ke 12 shio yang jumlahnya 12. Makanan yang disediakan masih menurut tradisi bertutur mereka biasanya makanan yang mempunyai arti kemakmuran, panjang umur, keselamatan dan kebahagiaan seperti siu mie (sejenis mie) yang dijuluki mie panjang umur, atau kue lapis agar rejekinya berlapis lapis, tetapi bubur tidak dihidangkan karena merupakan lambang kemiskinan.
Fenomena yang setiap tahun ini terjadi dan selalu melekat dalam ingatanku. Melayang ke masa kecilku, aku dan adikku suka mengumpulkan kue kranjang yang diberikan kepada keluargaku dan memasukkannya dalam “dandang”(tempat menanak nasi) besar yang hanya dipakai ibuku pada saat hajatan. Menurut tradisi, kue kranjang akan disusun bertumpuk dalam mangkok merah sebagai simbol kehidupan yang manis dan menanjak. Kue ini kalau sudah terkumpul banyak, dibagi kepada saudaraku yang lain yang tidak punya kesempatan mendapatkan kue khas imlek. Aku baru tersadar , ternyata Mamah Kin Tjui memberi keluarga kami seporsi Mie, supaya keluarga kami juga menerima berkah mie panjang umur. Amin. Amin.
Sambil kususuri gang pasar aku masih mengingat-ingat kenangan masa laluku. Grek, tanganku kesenggol lalu lalang orang didepanku yang masih berbelanja, aku menoleh, hei ternyata Hok Ndjien temanku waktu kecil sedang belanja keperluan imlek, disuruh istrinya katanya, sebentar aku ngobrol dengannya dan kembali kuamati orang-orang yang berbelanja. Kenapa ya kok banyak laki-laki tionghoa yang berbelanja pagi ini ? satu, dua, kuamati, koh Tjei pun turut serta berbelanja, meski sekarang sudah tua dan dalam proses pemulihan strokenya.
Belanja adalah belanja, saling bergotong royong antar keluarga terjadi pada saat –saat seperti ini. Engkong engkong tua akan sangat kegirangan karena cucu mantu dan anak-anaknya akan datang berkunjung kepadanya. Angpao sudah rapih disiapkan menurut sejarah cina, sementara istri atau anak perempuan tertuanya akan memasak segala masakan yang harus disediakan saat imlek. Masakan akan disantap hari minggu nanti saat imlek datang dalam satu keluarga yang besar, masakan lainnya juga disisihkan untuk tetangga yang tidak merayakan seperti keluarga kami (tapi mie enak buatan mamah Kin Tjui tidak lagi ada karena beliau sudah meninggal). Mungkin besok keluarga kami sudah tidak lagi menerima mie lagi, tapi ruh itu masih tetap terasa, suasana untuk saling bersapa, suasana yang menggambarkan keceriaan tanpa beban finansial (sementara kesulitan keuangan masih tetap menghadang).
Hujanpun pasti akan menyertai hari-hari sebelum dan sesudah imlek yang menandakan rejeki kata mereka. Pantas saja sore ini mendung dan sebentar lagi pasti hujan. Hujan berkat bagi masyarakat tionghoa selalu kuperhatikan, siapa tahu mampir juga kepadaku, ha ha kuhilangkan serpihan harapan yang membawa-bawa nama imlek, karena rejeki dan berkat pasti juga akan datang kepadaku. Pagi ini udara cerah, sehingga suasananya benar-benar ramai, tetapi masih banyak yang masih memesan. Besok pagi hari yang benar-benar sibuk akan semakin terasa karena pesanan akan diambil dan proses persiapan imlek dilaksanakan. Aku masih menyusuri gang pasar dan keluar gang menuju Pasar Patuk (pasar ini lebih elite karena semua restoran Tionghoa menggunakan pasar ini untuk memenuhi kebutuhannya). Kubelikan ibuku dua botol air mineral ber oksigen di pasar patuk sambil melihat-lihat suasana, sayang sudah terlalu siang untuk mengunjungi pasar ini karena kepadatan terjadi mulai pukul 5 pagi hingga pukul 8, tapi masih kulihat banyak mobil bak terbuka yang berisi belanjaan yang sangat banyak, persiapan restoran menawarkan menu-menu andalannya.
Lewat jalan besar dari pasar patuk akan lebih dekat, tapi langkahku kuayunkan lagi lewat gang kecil menuju pasar senin. Sesekali kusapa tetanggaku yang bertanya “libur to mbak? “, iya jawabku manis (emang iya ini kan liburan semesteran, sementara mereka tahunya aku libur kerja). Pisang dan buah masih menjadi dominasi bawaan belanjaan hari ini. Lalu lalang engkoh (sebutan laki-laki tionghoa) masih terjadi di pasar ini. Nikmat betul suasana pagi ini pikirku, suasana guyub sangat terasa, walaupun aku berada di sisi lain dari kegiatan perayaan imlek. Maka kuputuskan Hari ini aku ikut-ikutan seolah merayakan imlek, aku memasak sayur asin dengan daging iga khas tionghoa yang pernah dimasak ibuku waktu aku masih kecil. Aku beli di warung Tjik Djin.
Sampai dirumah ketika anak-anak dan suamiku pulang kerumah kutawari masakanku tidak ada yang mau, rasanya aneh campuran sayur yang asin dan kuah yang kecut. Menu ini kunikmati sendiri, sementara suami dan anak-anakku menikmati masakanku yang lain daging disayur kecap. Hmmm serasa merayakan imlek…. Dan kenangan-kenangan melihat sisi imlek kembali bergelayut dan pikiranku.

Senin, 04 Januari 2010

Digital week in library 2010

Perpustakaan terpadu yang berdiri kokoh di kampusku, membuat bangga dan sekaligus menyiutkan nyaliku, karena dengan demikian juga dituntut profesionalisme dalam mengelolanya, thema diatas adalah salah satu bagian promosi yang dapat digunakan sebagai rencana. Intinya semua stake holder dilibatkan dan sekaligus dapat memanfaatkannya secara mandiri. kenapa tema digital dipilih karena memang tuntutannya demikian. Jurnal online yang sudah dilanggan baik mandiri maupun kerjasama harus dipromosikan agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Mahasiswa juga dilibatkan sebagai bagian dari kerjasama. Inilah kunci yang mau dikedepankan. Promosi sebagai bagian yang secara tersistem dilakukan.

Dinamika ini kunikmati sebagai tugas yang tidak menjadi beban tetapi menjadi tantangan, Mas Sulhan, dosenku memberi percikan percikan ilmu yang diselipkan dalam setiap nafas perkuliahan, dari ilmu terapan sampai yang benar benar serius harus dipahami. Meleng dikit aja ada ilmu yang hilang.

Inilah dinamika, dan inilah yang menjadikanku bertumbuh.

Sabtu, 05 Desember 2009

Let's read it again

Hari hari yang sibuk ini begitu ku nikmati, tugas tugas yang harus kuselesaikan dengan tenggat waktu yang menyita dan konsentrasi penuh menyisakan tanyaku " oh berarti otakku sedang teraduk-aduk nih ". Ketika masuk kelas bergiliran kami mempresentasikan bacaan kami masing-masing, dan kudapatkan tambahan lagi pengetahuan. semua berbagi semua memberi masukan dan..... seru. Inilah proses yang selama ini kuharapkan. belajar lagi untuk membaca dan membacanya lagi supaya tidak salah bertutur kata, supaya segala ilmu dapat terurai satu persatu.

Kegiatan belajar yang pasti berbeda dengan masa masa kerjaku kemarin memberikan harapan untuk memperbaiki masa-masa yang akan datang.

melihat.... mengamati.... mengolah.... menyampaikan.... mendengar... membaca... semua kulakukan dengan raga yang jelas berbeda dari bertahun tahun yang lalu. tapi semoga semangat ini dapat mengapresiasi segala bentuk pembelajaran yang kudapatkan. semoga.

Jumat, 04 Desember 2009

Nationalism

" Perkembangan pertimbangan kultur politik elite dan perilaku kekuasaan pada bangsa Indonesia yang suka tergoda bermain di air keruh tanpa disertai tanggungjawab konflik sosial begitu gampang pecah, tapi sulit untuk menghentikannya, sangat lemah komitmen melakukan upaya penyelesaian jika muncul persoalan serius (tajuk rencana kompas, Jumat 4 Desember 2009)"

Mencuat ketika ada kasus Bank Century, dan selalu masyarakat yang dibingungkan dengan bermacam macam argumen dengan berbagai kepentingan politik.

Mengapa selalu terjadi arus pusaran yang berputar begitu keras. Adakah yang bisa paling tidak membuatnya menjadi putaran arus yang bijaksana yang mengesampingkan kepentingan pribadi atau golongan.

Rasa kebangsaan ini sedang diuji, tapi kok nggak selesai selesai sih? Padahal banyak orang pintar disini. jangan jangan semuanya cuma bilang so what gitu loh?

Rabu, 21 Oktober 2009

Ada yang salah dengan otakku?

Materi kuliah selalu tertulis rapi dengan pengolah kata di "Witty Lappie" ku, yang juga terjaring dengan dunia maya. Dengan direktori yang kususun rapi menurut jenis matakuliah dan judul yang memudahkanku untuk mem"browse" materi itu. Setiap kali membacanya kembali, dalam waktu beberapa lama mata lelah dan konsentrasi hilang. Kucoba beralih membaca buku catatan dan buku penunjang lain, eh satu dua jam aku tahan membacanya... ada apa ini, (gawat?). Ada yang salah dengan diriku ?. Jawabannya ada pada pendapat Mark Prensky, seorang pemerhati dunia pendidikan, yang menyampaikan mengenai seberapa jauhnya perbedaan antara pelajar generasi millennium dengan generasi sebelumnya ketika para pengajarnya masih duduk dibangku sekolah. aku termasuk generasi "digital Immigrant" pendatang baru yang melihat perkembangan digital teknologi dari nol dan ingin pindah ke era digital. sehingga segala sesuatu yang kulakukan harus terlihat nyata dulu dari pada langsung bernavigasi di dunia digital. Ternyata secara neurobiology pun otak kita berbeda dengan generasi berikutnya.
Generasi baru yang dimulai tahun 1981 merupakan generasi "Digital Native" yang lahir dan beranjak dewasa dengan kecanggihan teknologi. Ini sudah kuamati dari dunia generasi anak anakku. Dengan santai mereka bernavigasi dalam mendukung pelajaran yang diterima, sekaligus ber SMS dengan hpnya, dan pada saat yang sama ber"chatting" melakukan diskusi dengan teman-temannya tentang berbagai hal dari yang tak penting hingga dukungan pelajaran yang membingungkan mereka, karena mereka dipersatukan oleh teknologi Web 2.0 yang bersifat Networking bukan Broadcasting.

hih. Ini membuat ideku berkeliaran kemana-mana ? . Apakah keperluan generasi "digital native" ini sudah ditangkap oleh bapak ibu gurunya? oleh pengelola sumber informasi? oleh bidang promosi?. Sinergi --- sinegi. itu yang muncul berkelebat di pikiranku. Ayo ayo kita tangkap keperluan mereka : 1)Bapak ibu guru dan dosen atau yang bergerak di bidang pendidikan, berikan stimulan otak mereka dengan hal-hal baru sehingga pengetahuan bertambah seiring perkembangan kegiatannya 2) Perpustakaan sekolah perpustakaan perguruan tinggi : sediakan layanan yang dapat menangkap keinginan mereka di era digital sekaligus menawarkan informasi yang sarat untuk pengembangan pengetahuan mereka 3) pemasar : Berikan cara elegan agar mereka mampu memilih pasar keperluan mereka dengan baik.

akhirnya karena struktur otakku memang demikian adanya. Maka kulakukan match and mix untuk segala kegiatanku yang berkaitan dan ber"bau" digital.... Oh digital immigrant.

Rabu, 07 Oktober 2009

Perpustakaan Terpadu Jembatan Layanan Prima bagi Pemustaka



Petinggi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta sudah merasakan bahwa fungsi perpustakaan perguruan tinggi yang lengkap belum terpenuhi. Layanan perpustakaan yang tersebar di setiap kampus terasa tidak lengkap, walaupun tingkat akuisisi tinggi tetapi tidak sepadan dengan luasan ruangan yang tidak memadai. Kurangnya luas ruangan masih ditambah dengan posisi perpustakaan yang berada di basement dan tidak mudah dijangkau kecuali yang sudah terbiasa datang.

Lebih dari 8 tahun setelah peletakan batu pertama akhirnya perpustakaan terpadu itu terwujud berkat usaha yang keras dari Rektor beserta jajaran manajamen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Perpustakaan UAJY sebelumnya.

Perpustakaan UAJY merupakan perpustakaan yang terpusat dalam pengelolaannya dan koleksinya ditempatkan pada tempat-tempat layanan sesuai fakultas yang ada dalam kampus. Saat ini terbagi dalam 4 layanan dan beroperasi di 3 kampus. Perpustakaan menempati ruangan-ruangan yang tidak sepenuhnya didisain untuk perpustakaan, sehingga di 2 kampus terletak di lantai basement dan 1 kampus terletak di lantai 2, Sedangkan untuk pascasarjana ruangannya berbagi dengan Tata Usaha Pascasarjana.

Jajaran manajemen perpustakaan merasakan bahwa pelayanan yang terpencar menyebabkan beberapa permasalahan layanan dan pengembangan.

1. Lokasi buku sesuai pembelian fakultas membuat pengguna harus berpindah antar tempat layanan

2. Fasilitas yang disediakan harus ada di setiap tempat layanan sehingga memerlukan “cost” yang tinggi

3. Sebutan ruangan referensi menjadi tidak tepat, karena semua koleksi yang tidak disirkulasikan karena ruangan yang tidak memadai

4. Dibutuhkan Jumlah pustakawan yang lebih banyak

Menggagas Perpustakaan terpadu.

Sebelum perpustakaan terpadu secara fisik dibangun, tim IT perpustakaan bekerjasama dengan TIM Pusat Universitas merencanakan pembangunan layanan terpadu secara virtual yang menghubungkan keempat tempat layanan. Kampus II dan kampus III karena jarak yang relatif dekat menggunakan Fiber optik, sedangkan hubungan dengan kampus I menggunakan “radio wave”. Berkemampuan 2 mega. Fasilitas yang diberikan oleh universitas ini “ditangkap” oleh perpustakaan sebagai sinyal agar perpustakaan dapat lebih mengembangkan layanannya. Dari fasilitas ini perpustakaan dapat mengembangkan :

1. Layanan sirkulasi terautomasi di 4 titik layanan yang ter”update”, sehingga pengguna dapat meminjam koleksi di semua tempat layanan sesuai dengan ketentuan jumlah peminjaman

2. Layanan katalog online baik intranet maupun internet baik untuk sivitas akademika maupun masyarakat (akhir tahun 2008 perpustakaan UAJY termasuk 1 dari 5 perguruan tinggi yang tergabung dalam Jogja Library for all untuk katalog online dan silang layan).

3. Pemasangan Jurnal online yang dilanggan melalui fasilitas intranet, sehingga layanan jurnal yang semula hanya dapat diakses di perpustakaan, kini dapat dinikmati oleh semua civitas.

4. Perpustakaan mengembangkan literatur kelabu secara online.

5. Komunikasi antar titik layanan dapat juga menggunakan fasilitas server bersama atau komunikasi melalui instant messenger.

Wow, Perpustakaan terpadu secara fisik akhirnya terwujud.

Fasilitas-fasilitas yang ada telah membuat perpustakaan berkembang dan menjadi percaya diri dalam pengelolaannya dan jauh berbeda ketika layanan dilakukan secara manual. Manajemen perpustakaan dan universitas kemudian menyempurnakannya dengan pembangunan fisik Perpustakaan terpadu (akan di berkati tanggal 9 -10-2009,  hari jumat besok). Pertanyaannya adakah layanan yang lebih atau berbeda dari titik layanan perpustakaan sebelumnya?

Konsep Pengembangan layanan pada perpustakaan terpadu.

Perpustakaan sangat diuntungkan dengan kerjasama yang dilakukan dengan tim pengembang perpustakaan, karena ruangan-ruangan yang seharusnya ada di perpustakaan, dipikirkan didisain dan diadakan sesuai kaidah arsitektur. Hasilnya , perpustakaan mendapatkan 4 lantai yang mencakup ruangan-ruangan yang memfasilitasi kebutuhan pengguna mulai dari ruang baca, ruang seminar, ruang diskusi, fasilitas referensi yang lengkap selain ruang standar perpustakaan lain. Layanan baru yang sangat dibutuhkan pengguna adalah Desk Information System. Layanan ini akan menjembatani pengguna sebelum masuk ke perpustakaan dengan layanan yang direncanakan dapat lengkap membantu pertanyaan pengunjung. Selain itu OPAC dan fasilitas browsing jurnal tersebar di titik titik layanan yang direncanakan dapat dengan mudah dijangkau pengguna.

Semuanya terlibat dan dilibatkan

Pembangunan perpustakaan terpadu ini secara fisik dibangun dan dikembangkan hampir oleh semua sivitas akademika, bahkan mahasiswa komunikasi (matakuliah PR) membantu mempromosikan perpustakaan kepada segenap mahasiswa paling tidak di FISIP. Mereka menggunakan berbagai cara untuk memberitahu bahwa perpustakaan akan berubah. Contoh yang dilakukan adalah memberi motivasi pemustaka yang ditulis dan disebarkan kepada pengguna dalam selipan buku, bollpoint dan pin. Bahkan di depan bangunan yang akan dibangun ditulisi poster : Disini akan dibangun Gedung perpustakaan terpadu, inspirasi masa mendatang. Kesan yang ada sekarang adalah bahwa perpustakaan menjadi milik civitas yang penuh dengan kegairahan dikembangkan bersama.


Implementasi

Semua layanan terpadu yang sebelumnya dipersiapkan sekarang dapat diwujudkan. Selain layanan online juga layanan terpadu secara fisik ( titik layanan Perpustakaan kampus I masih dipertahankan karena letak yang jauh, dan menunggu fakultas pindah di area akademik Babarsari). Pengguna tersentral di Perpustakaan terpadu dan layananan disiapkan bagi kenyamanan pengguna. Seluruh sentral informasi yang sebelumnya tidak dapat dilayankan, segera dapat terwujud.


Disisi lain pustakawan yang tersebar di berbagi layanan justru tertantang untuk menjalankan profesinya semaksimal mungkin, dan semoga ini akan terus dihidupi dengan semangat yang baru. Kerja keras yang selama ini dilakukan berbuah manis dan berkeyakinan untuk dapat digunakan semaksimal mungkin sebagai sumber sumber informasi bagi kalangan terdidik di lingkungan sivitas akademika.


Meskipun bukan sesuatu yang baru, tetapi bagi kami memberi harapan baru bahwa perpustakaan dibangun berdasarkan kehendak bersama dan selalu dihidupi oleh pilar-pilar dalam sivitas akademika.

Motto kami : Perpustakaan terpadu jembatan layanan prima bagi pemustaka semoga menjadi bekal bahwa perpustakaan adalah jantungnya perguruan tinggi, detaknya akan memberikan informasi yang berguna untuk menghidupi Tri Dharma Perguruan tinggi.

Rabu, 26 November 2008

Lik jum penjual kupat

Aku menyebutnya lik jum. Ia seorang penjual kupat di pasar senen dekat rumahku. bahan dasar kupat adalah nasi yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa/janur. Tenggok dan tambir adalah bawaannya setiap hari. Kadang-kadang terselip sayuran yang ada di pekarangannya dibawanya serta. buah mandingan juga dibawa. Buah ini seperti lamtorogung tapi kecil. Bisa dibuat bothok yaitu makanan khas jawa campuran buah mandingan dan kelapa ditambah pete lalu dikukus. Setiap hari Lik Jum berjalan sekitar setengah jam dari rumahnya menuju pasar senen, pasar dekat rumahku. duduk dengan dingklik yang dibawanya dan mulai menggelar dagangannya diatas tambir. Langganannya adalah penjual gado-gado atau penjual lotek.